Tanpa firasat apa - apa, Valen yang ternyata hari ini tidak ada kuliah mengiyakan permintaan Dede untuk menjemputnya di kampus setelah jam kuliahnya selesai. Ia bahkan tidak banyak bertanya. Dede hanya bilang ingin langsung pulang, tidak ingin nongkrong bersama teman - temannya seperti biasanya. Valen tiba lebih awal dan menunggu di parkiran, duduk di balik kemudi sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Ia sudah terbiasa menunggu seperti ini. Tapi entah kenapa, siang itu muncul perasaan tidak enak yang samar - samar muncul, tanpa bentuk yang jelas. Dari kejauhan, Valen melihat Dede berjalan ke arah mobil. Langkahnya pelan, ransel tersampir di satu bahu. Wajahnya kurang lebih sama seperti kemarin sore saat mereka pulang dari kafe, ekspresinya tenang di permukaan, tapi koso

