Ketika waktu makan malam tiba, Dede tidak juga turun dari kamarnya. Bahkan sejak sore tadi hingga meja makan sudah rapi terhidang, pintu kamar itu tetap tertutup rapat. Kak Tiar sudah dua kali naik ke atas, mengetuk pintu, memanggil dengan suara pelan, lalu sedikit lebih keras. Namun tetap tidak ada jawaban selain keheningan. Akhirnya, hanya Mama Indah dan Papa Sapta yang duduk berhadapan di meja makan. Makanan sudah tersaji lengkap, seperti biasa. Tapi suasananya tidak seramai hari - hari lain. Tidak ada suara langkah Dede yang terburu - buru turun, tidak ada celoteh singkat soal kuliah atau latihan taekwondo. Kursi di sisi meja itu kosong. Papa Sapta menyendok nasi, lalu melirik ke arah tangga. "Enggak apa - apa itu?" tanyanya pelan. Tentu saja dia bertanya tentang anaknya yang tida

