Arsya Lagi

2525 Words

Sejak Dede menutup panggilan telepon dengan mamanya, suasana di dalam mobil berubah menjadi hening yang tidak nyaman. Hening yang bukan tenang, melainkan penuh pikiran yang tidak terucap. Valen menyetir dengan fokus berlebihan, matanya lurus ke depan, rahangnya mengeras. Dede duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela, melihat jalanan Medan yang sangat ramai saat siang terik begini, tanpa benar - benar memperhatikan apa pun. Rencana menonton film yang tadi mereka susun dengan santai, kini langsung menguap begitu saja. Tidak ada yang mengusulkan untuk tetap ke bioskop. Tanpa sepakat, tanpa debat, mobil justru berbelok ke arah yang berlawanan dari mall. Valen hanya berkata singkat bahwa mereka makan saja karena sama - sama belum makan sejak tadi. Dede mengangguk, meski perutnya sebena

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD