Penolakan Dede

2817 Words
Hari Kamis itu berakhir lebih lambat dari biasanya bagi Arsya. Sepulang sekolah, ia mengantar Sandra pulang lebih dulu, seperti rutinitas baru yang terasa menyenangkan. Jalanan sore Medan ramai, lampu -lampu mulai menyala satu per satu, dan percakapan mereka mengalir ringan. Ada tawa, ada cerita kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi terasa hangat karena diucapkan berdua. Ketika mobil akhirnya berhenti di depan rumah Sandra, adzan magrib hampir berkumandang. Sandra turun dengan senyum puas, melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam rumah. Arsya menunggu sebentar, memastikan pintu rumah itu benar - benar tertutup, lalu menjalankan mobil kembali. Dalam perjalanan pulang, perasaan Arsya ringan. Badannya lelah, tapi hatinya senang. Perasaan itu familiar, perasaan yang selalu datang setiap kali ia baru saja menjalani sesuatu yang menyenangkan bersama pacar barunya. Ada kepuasan kecil yang sulit dijelaskan, semacam keyakinan bahwa hari ini ia melakukan hal yang benar. Ketika mobil memasuki halaman rumah, suasana tampak lengang. Lampu teras menyala, tapi tidak ada tanda - tanda aktivitas di dalam. Arsya melirik jam di dashboard. Sudah masuk magrib. Biasanya di jam seperti ini kalau tidak ada praktek mamanya sudah ada di rumah, atau setidaknya Arman masih duduk di ruang keluarga. Tapi hari ini semoga tidak. Ketika Arsya masuk ke dalam rumah, seperti harapannya, rumah kosong. Sepi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Ia tahu papanya dan mamanya masih praktek di rumah sakit. "Hfft, untung aja," gumamnya. Soalnya kalau mamanya sudah di rumah, pasti akan ada pertanyaan panjang tentang kenapa pulang hampir malam, apalagi ini hari sekolah. Arman seharusnya sudah dari tadi di rumah, dia jarang pergi - pergi kalau pulang sekolah, kecuali ada kegiatan menarik sama teman-temannya, tapi pada dasarnya ia lebih senang di rumah dari pada nongkrong. Cuma kini Arsya tidak melihatnya di ruang tengah. Mungkin sudah masuk kamar. Arman biasanya yang paling peduli jam berapa ia pulang, tapi kali ini tidak tampak. Sekali lagi ini perlu disyukuri, jadi Arsya tidak perlu repot menjelaskan. Arsya langsung menuju kamarnya. Ia membuka pintu, melempar tas ke kursi, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa kecil di sudut kamar dengan posisi selonjoran. Kemejanya masih menempel di tubuh, sepatunya sudah ia lepaskan sembarangan. "Capek kali," gumamnya pelan. Namun rasa capek itu bercampur dengan perasaan senang yang sulit dihilangkan. Ia tersenyum sendiri, mengingat beberapa momen sore tadi. Nonton bareng, makan bareng, dan cara Sandra tertawa ketika ia melontarkan lelucon yang sebenarnya biasa saja. 'Pacar baru lagi,' pikirnya. Ada sedikit rasa bangga di sana. Dari sekian banyak pacarnya dimasa lalu, baru Sandra yang seperempat bule. Istilahnya paling bening, dan mungkin juga paling cantik. Bagaimana ia tak tergila-gila? Arsya bangkit, menuju kamar mandi. Air dari selang shower mengalir deras, membasahi rambut dan wajahnya. Di bawah guyuran air, tubuhnya mulai rileks. Semua rasa penat pelan - pelan luruh. Setelah mengeringkan tubuhnya, ia mengenakan baju kaus oblong dan celana pendek sedengkul, dan mengambil sarung untuk salat. Tiga rakaat itu tidak lama, habis salat magrib ia lalu naik ke tempat tidur untuk rebahan, tapi belum tidur, ia masih mau menelpon Sandra dulu. Setengah hari tadi tentu saja tidak cukup. Sebelum benar - benar merebahkan diri, kebiasaan lama membuat tangannya meraih ponsel. Ia membuka layar, berniat mengecek sebentar, lalu mematikannya.Namun begitu membuka aplikasi pesan, alisnya langsung mengerut. Grup kelasnya ramai. Pesan - pesan berderet cepat, sebagian sudah terlewat. Arsya menggulir layar ke atas, membaca satu per satu dengan dahi yang semakin berkerut. Mereka sedang membahas tugas praktek fisika. Tugas praktek yang harus dikumpulkan besok! "Astaga," gumam Arsya. Baru saat itu ia sadar ponselnya sejak siang berada dalam mode senyap. Ia sama sekali tidak mengikuti percakapan grup. Kepalanya langsung terasa panas. Panik datang bukan karena ia malas mengerjakan tugas, tapi karena ia tahu betul konsekuensinya. Tidak mengumpulkan tugas berarti satu hal, wali kelas akan mengumumkannya di grup orang tua hari itu juga. Dan itu adalah mimpi buruk. Mamanya memang sibuk. Jadwal prakteknya padat. Tapi soal sekolah, tidak ada toleransi. Prinsipnya jelas, main boleh, pacaran boleh, nongkrong boleh, tapi tugas sekolah tidak boleh tertinggal satu pun. Prinsip itu berlaku untuk Arsya dan juga Arman. Tidak ada pengecualian. Dengan cepat, Arsya mengetik di grup. Arsya Woe ...aku belum buat tugas Fisika, ada yang bisa bantu nggak?" Pesan itu terkirim. Arsya menatap layar ponselnya, menunggu. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Tidak lama kemudian, balasan masuk. Satu. Dua. Tiga. Namun setiap balasan yang muncul justru membuat wajah Arsya semakin masam. Sorry, Sya, punyaku aja belum selesai, kayak mana mau buatkan punyamu? Maaf Sya, aku nggak ada lagi bahan pembuatnya, nggak bisa buat dua,aku. Toko-toko sudah pasti tutup ini. Balasan lain menyusul, isinya kurang lebih sama. Alasan berbeda, hasilnya tetap satu, tidak ada yang bisa membantu. Arsya menghela napas panjang. Ia menjatuhkan ponselnya ke kasur sebentar, menatap langit-langit kamar. Dalam situasi seperti ini, pikirannya bekerja seperti mesin otomatis. Setiap kali ia kesulitan, setiap kali ia butuh bantuan, selalu ada satu nama yang muncul tanpa diminta. Dede. Tanpa berpikir panjang, Arsya membuka daftar kontak, lalu menekan nama itu. Nama penyelamatnya disegala suasana. Panggilan tersambung, nada dering terdengar di telinganya. Satu dering. Dua dering. Tiga. Sampai akhirnya panggilan itu berakhir sendiri tanpa ada yang menerima. Arsya menatap layar ponselnya dengan kesal. Ia mencoba sekali lagi, dan berharap mendengar suara Dede, tapi tetap tidak diangkat. "Kenapa pula dia ini," gumamnya sambil melihat layar ponselnya dengan alis bertaut. Ia melirik jam dinding di kamarnya. Setengah delapan malam. Belum terlalu malam. Ia tahu betul jam segini Dede belum tidur. Biasanya, di jam-jam seperti ini Dede masih belajar atau sekadar membaca buku, hobinya. Tanpa mengganti pakaian, Arsya hanya mengambil jaket dari gantungan. Ia mengenakannya asal - asalan, menyambar kunci mobil, lalu keluar kamar dengan langkah cepat. Di lantai bawah, suasana tetap sepi. Tidak ada suara televisi. Tidak ada orang lalu - lalang, mungkin ART dibelakang semua nonton sinetron jam tujuh malam karena sudah tidak ada pekerjaan lagi. Arman jelas sudah di kamarnya. Papanya dan mamanya belum pulang juga. Arsya langsung menuju pintu samping. "Ende, tolong bukakan pagar dulu, aku mau keluar," perintahnya. "Ya, Mas," jawab ART laki-laki yang sedang duduk di pos satpam bersama satpam rumah mereka. Pagar terbuka. Arsya masuk ke mobil, menyalakan mesin. Namun sebelum benar - benar keluar dari halaman, ia berhenti sejenak di depan pos satpam. Kaca jendela mobil diturunkannya. "Nanti kalau Papa sama Mama pulang tanyain aku, bilang aku lagi ke rumah Dede ya." "Iya Mas." Arsya mengangguk, menutup kembali kaca jendela, lalu melajukan mobilnya keluar. Nama Dede memang seperti password di rumah itu. Selama alasannya ke rumah Dede, tidak akan ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada kecurigaan, semua dianggap wajar. Perjalanan ke rumah Dede memakan waktu sekitar lima belas menit. Jalanan tidak terlalu ramai, membuat Arsya bisa melaju dengan tenang. Begitu sampai di depan rumah Dede, ia melihat suasana yang hampir sama dengan rumahnya sendiri, sepi. Lampu ruang tengah menyala, tapi tidak ada tanda keramaian. Sopir papanya Dede, Bang Aji, terlihat sedang membersihkan mobil di halaman. Begitu melihat mobil Arsya, ia langsung membuka pagar. "Om Sapta baru pulang bang?" tanya Arsya sambil turun dari mobil. "Sudah mau setengah jam yang lalu," jawab Bang Aji. "O. Dede ada nggak, Bang?" "Ada tadi, masuk aja lah." "Iya." Arsya tidak masuk lewat pintu depan. Seperti biasa, ia memilih lewat garasi yang langsung terhubung ke dapur dan ruang makan. Baru saja ia membuka pintu, seseorang hampir menabraknya. "Eh kaget ..." suara itu terdengar bersamaan dengan langkah yang terhenti mendadak. Arsya tersenyum begitu melihat Tiarma, salah satu ART di rumah Dede, yang sedang membawa piring sisa makan. "Masa kaget sih kak?" katanya ringan. "Untung nggak jatuh piring yang kakak bawa, betulan kaget loh," sahut Tiarma sambil menstabilkan pegangannya. "Maaf ya." "Nggak apa - apa, masuk Mas." Mereka memang sudah saling kenal sejak lama. Arsya sering keluar-masuk rumah ini sejak kecil, jadi tidak ada canggung di antara mereka. Tiarma ini ART senior yang sudah berada di rumah keluarga Sapta lebih dari sepuluh tahun yang lalu, jadi sangat kenal Arsya dan keluarganya. "Dede ada kak?" tanya Arsya. "Ya, ada lah," jawab Tiarma sambil meletakkan piring - piring itu di dapur belakang. "Nggak janjian kalian rupanya?" tanyanya lagi ketika hendak kembali ke ruang makan. "Tadi teleponku nggak diangkatnya, apa dia sudah tidur, kak?" "Belum, baru aja habis makan dengan papanya. Baru masuk kamar orang itu." Arsya menghela napas kecil. "Tolonglah Kak dipanggilkan." "Sebentar ya, sudah makan, Mas?" "Belum. Tapi aku nggak lapar Kak." "Oh ya udah." Arsya melangkah ke ruang tengah dan duduk di sofa. Ia menyandarkan punggung, menatap ruangan yang terasa lengang. Suasana rumah ini sama sepinya dengan rumahnya sendiri. Bedanya, ia punya seorang kakak, sementara Dede benar - benar sendirian. Vibes-nya tetap sama, tenang, sunyi, dan entah kenapa terasa akrab. Dulu waktu kamar Dede masih dibawah, ia akan langsung masuk saja ke kamar Dede, tapi sejak dua tahun ini kamar Dede pindah keatas, Arsya malas naik. Di saat yang sama, Tiarma sudah melangkah menuju tangga, naik ke lantai atas, menuju kamar Dede untuk memanggilnya turun. -- Di lantai atas, Dede baru saja menutup buku fisikanya ketika suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamarnya. Ia tahu itu pasti bukan papanya. "De," suara Kak Tiar terdengar dari balik pintu. "Ada Arsya di bawah." Dede menutup mata sebentar. Sebenarnya tadi Dede bukan tidak tahu kalau Arsya yang menelepon. Nama itu muncul jelas di layar ponselnya, lengkap dengan foto kontak yang sudah terlalu lama tidak ia ganti. Ia membiarkan panggilan itu berdering sampai berhenti sendiri, bahkan sampai ddua kali. Bukan karena dendam, bukan pula karena ingin membuat Arsya menunggu. Ia hanya sedang menjaga jarak yang baru saja ia pelajari caranya demi menjaga perasaannya sendiri agar tidak semakin tergores oleh hal-hal yang belakangan ini terasa terlalu sering muncul. Tapi lebih tepatnya lagi, ia mengikuti saran Tanti yang sudah terlihat tidak sabar melihat sikapnya. Tiar membuka pintu kamar Dede yang tidak dikunci. "Ada perlu apa dia, Kak?" tanya Dede menoleh ke arah pintu. "Kurang tahu. Duduk aja dia di ruang tengah. Mukanya kayak orang kejar setoran," jawab Kak Tiar setengah bercanda. Dede menghela napas panjang. Ia menatap ponselnya yang kini tergeletak terbalik di meja. Tidak ada pesan susulan atau ada penjelasan. Hanya dua panggilan tak terjawab yang kini berubah menjadi kehadiran nyata yang bersangkutan di ruang tengah rumahnya. "Iya, Kak. nanti aku turun," katanya akhirnya. Kak Tiar menutup pintu kamarnya dan turun lagi. Dede bangkit dari tempat duduknya, merapikan kaus yang ia kenakan, tidak perlu berdandan atau perlu bersiap berlebihan. Ia hanya perlu menuruni tangga dan menghadapi satu orang yang sejak kecil sudah terlalu akrab dengan hidupnya, tapi bukan siapa-siapa. Di ruang tengah, Arsya duduk selonjoran di sofa, satu tangan menyandar di sandaran, satu tangan lainnya memegang ponsel, gayanya terlalu santai seperti di rumah sendiri, apalagi hanya bercelana pendek. Kepalanya menoleh cepat begitu mendengar langkah kaki. "De," katanya, nadanya terdengar lega. "Ada di rumah rupanya, kenapa teleponku nggak diangkat?" Baru saja Dede terlihat, Arsya langsung bertanya dengan nada protes. Dede hanya berdiri beberapa langkah menuju sofa. Ia tidak mau duduk. "Ada apa?" tanya Dede tanpa menanggapi pertanyaan Arsya tadi. Pertanyaan itu terdengar datar. Tidak dingin atau hangat, hanya cukup untuk membuat Arsya sedikit mengernyit. "Kenapa nggak angkat teleponku?" tanya Arsya penasaran, tidak to the point. Dede mengangkat bahu kecil. "Hp ku silent." Jawaban paling aman dan Arsya tak bisa protes lebih jauh. Toh dia melakukan hal yang sama sepanjang siang tadi hingga membawanya kesini karena ketinggalan info soal tugas praktek fisika. "Kamu lagi apa?" "Belajar," jawab Dede singkat. Arsya menatapnya beberapa detik, lalu menepuk sofa di sampingnya. "Duduklah dulu, nggak enak kali ngobrol berdiri gitu." Dede ragu sebentar, tapi akhirnya duduk juga, menyisakan jarak yang tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh. Jarak yang belakangan ini terasa aman. "Aku baru lihat ada tugas fisika," kata Arsya tanpa basa - basi lagi. "Besok dikumpul. Aku belum buat." Dede menoleh. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya, tapi ia menahannya dan menunggu. "Aku tanya di grup, nggak ada yang bisa bantu. tapi aku yakin kamu bisa bantu aku," lanjut Arsya, seolah itu hal paling wajar. Dede sudah melihat chat Arsya di grup kelas tadi, tapi dia tidak menanggapi. "Kamu pasti pasti sudah siap, kan?" Dede mengangguk pelan. "Sudah." "Kan ... bantu lah aku, De." Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa kata tolong yang sungguh - sungguh. Tanpa kesadaran bahwa hari - hari terakhir tidak berjalan seperti biasanya. Ada kesalahan yang belum dimintakan maafnya, ada diam yang tidak biasa, bahkan ada olok-olok yang dilontarkan. Dede terdiam beberapa detik. "Kamu datang ke sini cuma soal itu?" Arsya tertawa kecil. "Ya iyalah. Masa aku malam - malam ke sini cuma mau duduk - duduk? Lucu kali, kan?" Dede tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Kalau aku nggak bantu?" tanyanya pelan. Arsya menoleh cepat. "Hah?" Respon itu terdengar jujur. Arsya memang bingung. Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang salah. Ia hanya sedang menjalani hidupnya yang baru, dan Dede selama ini selalu ada di tempat yang sama, tapi sekarang terlihat lain?. Dede menatap lantai sebentar, lalu kembali menatap Arsya. "Kok kelihatan kaget, biasa aja lah mukamu itu." "Ada masalah apa? Ada yang menghasutmu di sekolah buat bantu aku?" kata Arsya. Dede menghela napas. "Mungkin." "Siapa?" Kamu! Ingin rasanya Dede meneriakkan begitu, tapi Tentu saja tidak mungkin, dia malah tersenyum. "Bukan siapa - siapa, aku main - main aja tadi. Aku nggak nyangka aja kamu belum buat tugas, kan sudah dua hari yang lalu dikasih pak Tedi," jawabnya masih mempertahankan senyumnya. Arsya menyandarkan punggung ke sofa. "Aku lagi pusing kali ini, De. Kalau tugas itu nggak kukumpulin, bisa masuk grup orang tua. Kamu tau lah mamaku kek apa." Dede tahu. Ia tahu betul bagaimana Tante Ana bisa sangat tegas soal sekolah. Ia tahu bagaimana Arsya selalu mengandalkannya untuk urusan-urusan seperti ini. Dan mungkin, di titik inilah Dede akhirnya menyadari, selama ini, ia terlalu sering menjadi solusi tanpa pernah menjadi pilihan. "Aku bisa bantu," kata Dede akhirnya. "Tapi bukan malam ini." Arsya menegakkan badan. "Kenapa pula?" "Capek," jawab Dede jujur. "Hari ini panjang." Arsya terdiam. Ini bukan jawaban yang biasa ia terima dari Dede. "Besok pagi?" tawar Arsya. Dede menggeleng. " Mana sempat lagi." "Please lah, De ... jangan gitu kali lah, nggak kasihan kau lihat aku? Tahu sendiri kan Mamaku kayak apa kalau marah? Macan pun dimakannya." Dede hampir saja tidak bisa menahan senyumnya padahal wajahnya sedang serius. "Aku lagi banyak urusan." Arsya mengernyit. "Urusan apa, pula?" Dede tersenyum kecil. "Urusanku, lah." Ada keheningan pendek yang menggantung di ruang tengah. Jam dinding berdetak pelan. Dari dapur terdengar suara peralatan makan yang dibereskan. Arsya mengusap wajahnya dengan satu tangan. " Kok jadi gini ... Aku ada salah apa dengan kamu?" Dede menggeleng. "Nggak ada kayaknya." Pada kata 'kayaknya', Dede memberi tekanan. "Terus kenapa kamu begini? Jadi aneh ah. Biasanya kamu selalu bantu aku, kok berubah?" Dede menoleh. Tatapan mereka bertemu, dan untuk pertama kalinya malam ini, Dede tidak menunduk lebih dulu. "Aku lagi belajar jaga jarak," kata Dede pelan. Arsya terdiam. "Jaga jarak apa?" Dede menelan ludah. Ada banyak jawaban di kepalanya, tapi ia memilih satu yang paling sederhana. "Biar nggak salah paham." Senyum Arsya menghilang. Ia menatap Dede lama, seperti sedang mencoba menyusun sesuatu yang tidak pas di kepalanya. "Aku nggak pernah bikin kamu salah paham," katanya akhirnya. Dede tersenyum lagi. Kali ini lebih lelah. "Bukan kamu, tapi aku." "Salah paham apa pula ini ... ckk, aneh kali. Pasti lagi dapat nih, mulai kumat anehmu itu." Arsya berdiri dengan wajah kesal. "Jadi kamu nggak mau bantu?" Dede ikut berdiri. "Aku nggak bilang nggak mau. Aku cuma bilang bukan malam ini." Arsya mengangguk kecil, meski jelas kecewa. "Ya sudah." Ia mengambil jaketnya yang tadi diletakkan di sandaran sofa. Langkahnya menuju pintu tidak secepat saat datang. Ada jeda kecil sebelum ia membuka pintu. "De," panggilnya. "Hm?" "Makasih ya. Selama ini sudaah bantu aku." Kalimat itu terdengar sarkas sebenarnya dan lebih mirip orang sedang merajuk, seperti baru pertama kali diucapkan. Tapi Dede mencoba bertahan Ia mengangguk. "Sama - sama." Arsya membuka pintu, melangkah keluar. Pintu tertutup pelan di belakangnya. Dede berdiri beberapa detik di ruang tengah yang kembali sepi. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dadanya terasa lega sekaligus nyeri. Perasaan yang aneh, tapi jujur. Sementara di luar, Arsya berjalan menuju mobilnya. Ia duduk di kursi pengemudi, menatap setir tanpa langsung menyalakan mesin. Ada sesuatu yang terasa bergeser malam ini, sesuatu yang tidak ia pahami sepenuhnya, "Ada masalah apa Dede hari ini?" Nama Dede masih menjadi password yang paling ampuh di rumahnya. Tapi untuk pertama kalinya, ia pulang dari rumah itu tanpa membawa apa - apa. Dan di dalam rumah, Dede melangkah ke dapur, mengambil segelas air, lalu kembali ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap buku fisika yang tadi ia tutup. Ia masih mencintai Arsya. Itu tidak berubah dalam semalam. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, Dede memilih dirinya sendiri lebih dulu. Dan meski rasanya tidak sepenuhnya nyaman, ia tahu, langkah kecil ini perlu. Karena mencintai diam-diam tidak berarti harus selalu mengorbankan diri sendiri. Dan di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Dede mulai belajar satu hal baru, bukan tentang fisika, bukan tentang taekwondo, tapi tentang batas yang selama ini tidak pernah ia pasang. Ia harap Arsya mengerti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD