Hukuman

3667 Words
Pagi itu kelas IPA 1 terasa lebih heboh daripada biasanya karena semua siswa mengumpulkan tugasnya ke depan, ke meja ketua kelas. Antony Saragih berdiri di depan mejanya sambil memegang setumpuk tugas fisika. Tangannya menghitung jumlah tugas tersebut dengan dahi sedikit berkerut, ia sampai menghitung dua kali untuk memastikan tidak ada yang terlewat, tapi tetap kurang. "Cuma dua puluh empat, Pak," lapornya ke pak Tedi. "Siapa yang belum mengumpulkan?" tanya Pak Tedi ketika menerima tumpukan tugas itu di depan mejanya. "Nggak tahu Pak," jawab Tedi yang memang tidak melihat satu persatu siapa saja yang mengumpulkan tugas tadi, ia hanya merasa semua murid sepertinya berdiri dan menyerahkan tugas ke mejanya. "Kamu cek, lah!" "Iya, Pak." Pak Tedi berdiri di samping meja guru, tangannya bersedekap, matanya sesekali menyapu wajah murid - muridnya dan menunggu Antony mengeceknya. "Siapa yang belum kumpulkan tugas, kenapa baru dua puluh empat orang?" tanya Antony Saragih kepada teman - temannya. Beberapa siswa yang merasa sudah mengumpulkan tugas mereka hanya menoleh ke arah teman - teman yang lain, Mereka tidak tahu siapa yang belum mengumpulkan tugas, kecuali dua orang, Arsya dan Dede. Suasana hening beberapa detik. "Aku," jawab Arsya tidak terlalu keras tapi bisa didengar oleh semua. Jawaban itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang. Tidak membuat gelombang besar, tapi cukup menarik perhatian. Pak Tedi langsung mengarahkan pandangannya menatap ke arah Arsya Mahendra. "Kenapa sampai nggak ngumpulkan tugasmu? Kan sudah saya kasih tahu dari dua hari yang lalu?" tanya Pak Tedi. "Lupa Pak." Nada suara Arsya datar. Tidak berusaha membela diri, tidak pula bercanda seperti biasanya. "Bah ... Dari dua puluh lima orang di kelas ini, cuma Arsya Mahendra yang lupa, nggak salah ini ya?" Beberapa murid menahan senyum, sisanya yang lain tampak pura-pura sibuk dengan buku. "Besok Pak,"jawab Arsya lagi. Pak Tedi menghela napas pendek. "Nggak ada jam saya besok di sini. Poin minus ini. Sayang kali nilaimu dikurangi." Kalimat itu terdengar biasa saja bagi sebagian siswa, tapi bagi Arsya, itu seperti tamparan kecil. Bukan karena nilai, melainkan karena ini pertama kalinya ia benar - benar tidak siap, dan mungkin juga malu. Arsya diam saja tapi matanya melirik ke arah Dede. Tatapan itu singkat, penuh harap yang bahkan tidak ia sadari sendiri. Harusnya, biasanya, di momen seperti ini Dede akan menoleh atau memberi anggukan kecil. Ia akan menunjukkan ke Arsya bahwa semuanya baik - baik saja. Namun kali ini tidak. Sahabatnya yang bukan siapa - siapa itu hanya menunduk sambil menulis, seolah ia tidak mendengarkan percakapan barusan. Tangannya bergerak stabil di atas kertas, ekspresinya tenang, bahkan terlalu tenang untuk suasana kelas yang sedikit penuh bisik - bisik itu. "Iya, pak." Jawaban Arsya terdengar pelan, hampir menyerah. Pelajaran pun berlanjut. Pak Tedi mulai menjelaskan materi baru, menulis rumus di papan tulis. Suara spidol beradu dengan papan terdengar jelas. Namun bagi Arsya, semua itu seperti suara latar yang jauh. Selama pelajaran pikiran Arsya tidak fokus. Angka - angka di papan tulis tidak masuk ke kepalanya. Yang ada hanya satu pikiran yang terus berputar, baru kali ini Dede tidak membantunya sama sekali. Catat ... sama sekali! Ini bukan soal tugas fisika saja. Tapi ini soal kebiasaan yang tiba - tiba hilang dan membuat Arsya kesal. Biasanya, Dede akan mengingatkannya atau akan menanyakan, "Sudah siap tugasmu?" Biasanya kalau dia datang seperti tadi malam, Dede akan duduk di sampingnya membuka buku, dan berkata santai, "Ya udah, kita kerjakan sama - sama, lain kali jangan asik main aja." Tapi kali ini, tidak ada apa - apa, menoleh saja tidak! Keterlaluan Waktu Pak Tedi mengomentarinya pun, Dede tidak menoleh sama sekali memberi support seperti biasa. Tidak ada tatapan. Tidak ada senyum kecil. Tidak ada sinyal diam - diam bahwa semuanya akan beres. Dan itu, entah kenapa, lebih mengganggu daripada pengurangan nilai seperti pak Tedi bilang tadi. - Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi. Suara itu terdengar nyaring, membebaskan, tapi juga memecah konsentrasi yang sudah berantakan sejak tadi. Arsya langsung berdiri dan keluar kelas bersama teman - temannya. Langkahnya cepat, seolah ingin menjauh dari bangkunya sendiri. Sementara itu, seperti biasa, Dede dan Tanti tetap di kelas saja untuk jam istirahat pertama ini. Tanti menyandarkan punggung ke kursinya, menoleh ke arah Dede yang duduk sambil mengeluarkan dua buah jeruk dari tasnya, satu langsung ia sodorkan ke Tanti. "Mau juga kau dengar saranku," komentar Tanti untuk pertama kali soal tugas Arsya tadi. Dede tidak menyahuti, ia tetap sibuk mengupas kulit jeruk dengan hati - hati, seolah itu pekerjaan paling penting di dunia. Kulit jeruk dikit demi sedikit mulai terkelupas, aromanya menyebar pelan di udara. Aksinya itu menunjukkan dengan jelas kalau ia tidak mau membicarakan hal itu. Jujur, sebenarnya ia tidak tega melihat raut wajah Arsya yang dipermalukan oleh Pak Tedi tadi. Ia tahu Arsya tidak terbiasa berada di posisi itu. Masalah pengurangan nilai mungkin tidak masalah buat Arsya, nilainya juga masih tinggi. Tapi rasa malu saat namanya dipanggil tadi yang jadi masalah, terlebih dia orang satu -- satunya yang tak mengumpulkan tugas. Namun Dede menahan diri. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga jarak. Dan menjaga jarak artinya tidak ikut campur di setiap hal kecil seperti dulu. "Kok kayak nggak seneng sih, kau?" tanya Tanti lagi melihat tidak ada tanggapan sama sekali dari Dede. Dede berhenti mengupas jeruknya, akhirnya menoleh pelan. "Biasa aja, emangnya kau harap aku mau kek mana?" Nada suaranya datar, tapi cukup untuk membuat Tanti mengangkat alis. Lalu Tanti terkekeh sarkas seolah tahu bagaimana sebenarnya dalam hati Dede meskipun ia menampilkan wajah tak peduli. "Perlu kali kau ketawa?" tanya Dede sambil meliriknya. "Masa nggak boleh aku ketawa? Lucu kali tadi itu." Dede mendengus pelan. Ia kembali melanjutkan mengupas jeruk. "Kau makan aja jerukmu itu, udah capek - capek aku bawanya tadi." Tanti berhenti tertawa, tapi masih tersenyum tipis. "Iya iya, aku makan jerukmu ini ... manis kali kayaknya ya ... haha." Tanti tertawa lagi tanpa judul dan itu semakin membuat Dede sebal. "Kenapa nggak kau bilang aja kalau kau itu sedih," celetuk Tanti masih dengan sisa tawanya. "Siapa bilang aku sedih? Jangan ngarang, kau. Nggak ada aku sedih," jawab Dede cepat. "Kalau nggak sedih, kenapa kau pura - pura nggak peduli? Eh tapi tadi kulihat mukanya kek kesal kali, ya, lucu, kan? Kenapa nggak mau minta tolong aja sama pacarnya itu ya?" Dede tidak menjawab. Ia memakan potongan jeruk itu perlahan. Rasanya memang manis, tapi ada sedikit asam yang tertinggal di lidah. "Eh tapi kudengar dari anak IPA tiga, katanya si bule itu, t***l dia, De ... jadi mana mungkin juga si Arsya minta tolong sama dia " bisik Tanti."Kok mau si Arsya sama cewek t***l, ya, De?" "Kau jangan memfitnah, mana mungkin dia di kelas itu kalau dia t***l, ada-ada aja kau." "Ih, buat apa aku bikin fitnah, nggak ku tanya - tanya pun soal si Bule itu, apa peduliku rupanya? Saudara bukan, bersahabat pun tak pernah ... nggak ada kerjaan kali kan ku tanya - tanya soal dia? Kawanku kok yang cerita sendiri." "Ngapain dia cerita soal Sandra ke kau kalau nggak kau tanya duluan? Kau kan kepoan orangnya. Nggak percaya aku kalo kau nggak nanya - nanya." "Ckk ... nggak ada aku kepo soal dia. Justru kawanku itu kepo sama Arsya yang mau sama si Sandra itu. Orang itu heran, kok si Arsya yang pintar, gagah pula ya kan .... mau sama si Sandra itu. Sudahlah orangnya sok ngatur, otaknya kosong, cuma menang cantik aja, kalau diajak ngomong kadang suka nggak nyambung katanya. Dari situlah aku tahu dia t***l, bukan aku tanya - tanya," jelas Tanti sambil setengah berbisik karena takut didengar yang lain. Padahal di kelas sudah tidak terlalu ramai saat ini, hanya yang tidak pergi ke kantin saja yang tetap tinggal. "Nggak usah kau ikut campur urusan mereka, nggak usah juga kau cerita macam - macam. Bilang aja kau nggak tahu apa - apa, urusan dia lah mau pacaran sama siapa." "Kalau itu nggak usah kau ajarkan aku, aku pun nggak bilang apa - apa sama kawanku itu, soalnya aku nggak tahu kenapa Arsya mau sama si Sandra, padahal dia punya sahabat cantek, mana encer kali otaknya ... cuma sayangnya bukan siapa - siapa pula kata si Arsya, aisss ... sekarang dirasanyakan lah sudah ketularan tololnya Sandra." Dede melirik tajam ke arah Tanti, "Mulut kau itu ya ..." Tanti hanya senyum - senyum saja lalu meneikmati jeruknya. Di luar kelas, ketika jam istirahat pertama akan berakhir, Arsya masih berdiri bersama gengnya di lorong depan kelas. Mereka tertawa, membicarakan hal lain, tapi sesekali Arsya melirik ke arah kelas. Pandangannya seperti mencari sesuatu. Ia melihat Dede dan Tanti dari kejauhan. Dede sedang memakan jeruk. Pemandangan itu terasa asing. Biasanya, Dede akan berdiri di dekatnya sekarang. Biasanya, mereka akan membahas tugas bersama, meski hanya sebentar. Ada perasaan aneh yang menyusup ke d**a Arsya. Bukan marah atau kecewa. Lebih seperti kehilangan kecil yang belum ia pahami. Bel masuk kembali berbunyi. Arsya berjalan masuk kelas, duduk di bangkunya. Ia melirik ke arah Dede sekali lagi. Dede tidak menoleh. Arsya merasa sendirian di kelasnya sendiri. Sementara itu, untuk pertama kalinya pula, Dede menyadari bahwa menjauh tanpa drama ternyata jauh lebih melelahkan daripada bertahan sambil terluka. Dia mulai ragu dengan apa yang sudah dilakukannya kepada Arsya. --- Pulang sekolah siang ini berjalan seperti hari - hari belakangan, tanpa kejutan, tanpa drama, tanpa satu pun usaha untuk berpura - pura bahwa semuanya masih sama seperti dulu. Begitu bel berbunyi, Arsya langsung berkemas, gerakannya cepat dan terarah. Ia tidak menoleh ke bangku tengah dekat jendela. Tidak menyapa atau memberi isyarat apa pun. Seolah kejadian di kelas pagi tadi, teguran Pak Tedi, poin minus, tatapan kosong ke arah Dede, tidak pernah terjadi. Sandra sudah menunggunya di luar kelas. Mereka berjalan berdampingan melewati lorong sekolah, melewati siswa-siswa lain yang pulang dengan tawa dan cerita. Dede melihat itu dari jauh. Pandangannya mengikuti langkah mereka tanpa niat, seperti refleks yang belum sepenuhnya hilang. Lagi-lagi, ia melihat Arsya pergi tanpa dirinya. Dari tadi Dede tidak berkata apa-apa. sejak ia hanya menutup bukunya, memasukkannya ke tas dengan rapi sampai ikut jalan beberapa meter dibelakang pasangan itu. Tanti yang berjalan di sampingnya, tidak menanyakan apa pun. Mereka sudah terlalu sering berada di momen seperti ini belakangan. Di parkiran, Arman berdiri di dekat mobilnya. Ia melihat Dede dan Tanti mendekat, lalu mengangguk kecil. "Pulang?" tanyanya singkat. "Iya, Bang," jawab Dede. Arman membuka pintu mobil. "Ayo." Tidak ada percakapan luar biasa di sepanjang jalan. Tidak ada pembahasan tentang Arsya. Arman tidak bertanya lagi mengapa adiknya tidak mengajak Dede pulang lagi hari ini, soalnya sudah dari beberapa hari lalu selalu begitu. Ia sudah terlalu paham pola itu. Kalau Arsya sedang sibuk dengan dunianya sendiri, siapa pun bisa tersingkir tanpa penjelasan, termasuk orang yang paling lama berdiri di sisinya. Kalau menurut Arman, Arsya seperti sedang tidak sadar diri kalau sudah ada orang baru yang menarik perhatiannya, apalagi sampai dijadikannya pacar, Nanti kalau sudah bosan atau tidak ada kecocokan, dia akan kembali ke orang lama lagi. Itu selalu berulang - ulang, yang jadi korban memang Dede, karena cuma dia yang siap menampung adiknya itu kapan saja. Arman kadang tidak mengerti sama Dede, memang dia terlalu baik atau ada sesuatu di baliknya? Yang bikin rancu itu karena Dede juga bersikap baik kepadanya, Cuma bedanya dia tidak punya koleksi pacar sebanyak Arsya dan meninggalkan sahabat mereka seperti itu, seperti yang Arsya lakukan selama ini. Mobil melaju keluar dari area sekolah. Setelah beberapa menit, Arman menoleh ke kaca spion. "Kalian mau langsung pulang?" tanyanya. Tanti dan Dede saling pandang singkat. "Kita ngopi bentar aja yuk," lanjut Arman. "Masih siang juga. Aku malas langsung ke rumah." Dede mengangguk. "Boleh, Bang." Mereka mampir ke sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Tempatnya sederhana, musiknya pelan. Arman memesan kopi latte, Tanti memilih minuman manis lainnya, lychee tea dan carrot cake, dan Dede memesan Americano dan Tiramisu. Sudah jelas Arman yang mentraktir. Duo kembar itu tidak mungkin membiarkan siapapun orang yang jalan sama mereka membayar belanjaan atau makanan. Sejauh ini Arman tidak pernah jalan sama siapa - siapa kecuali teman - teman dekatnya, itu pun hanya ke Resto atau Cafe. kalau Dede sering. Kini mereka duduk bertiga di satu meja, tidak ada obrolan berat. Hanya cerita ringan tentang guru, tentang tugas, tentang hal - hal yang sengaja tidak menyentuh satu nama tertentu. Bahkan saat Arman membayar tadi, Dede sempat berbisik kepada Tanti untuk tidak menceritakan apapun soal kejadian di pelajaran Fisika tadi. Ia tidak mau Arman mendengarkan cerita itu dari mereka. Dede sudah tahu kok peraturan apa yang ada di rumah mereka itu, nanti juga Arman tahu. Sementara itu, di mobil yang melaju ke arah berlawanan, suasananya jauh lebih hidup. Sandra duduk di kursi penumpang dengan tubuh sedikit condong ke arah Arsya. Ia bercerita panjang lebar, berpindah dari satu topik ke topik lain tanpa jeda. Tentang teman - temannya, tentang rencana akhir pekan, tentang hal- hal kecil yang ia ingin Arsya dengar. Arsya menyetir sambil mengangguk, sesekali menimpali, sesekali tertawa, ia terlihat santai dan nyaman. Seolah tidak ada yang mengganjal di kepalanya. "Sya, Karina ulang tahu ke tujuh belas di hotel malam minggu lusa, kamu ikut ya," kata Sandra. "Aku nggak diundang," jawab Arsya spontan. "Kamu kan pacar aku. Undangannya untuk aku dan pacar. Dia udah tahu, kok. Makanya dia nggak ngundang kamu lagi, jadi double," kata Sandra ringan. Arsya berpikir sebentar. "Oke, jam berapa?" "Jam tujuh malam. Kita pergi setengah tujuh aja." "Ya udah." "Tapi aku belum beli kado. Pulang sekolah besok kita cari kado buat dia, ya Sya," ajak Sandra manja. "Nggak bisa, akukan latihan." "Yaah, udah lah, Sya, besoknggak usah latihan. Kan sekali - sekali." "Kamu sudah motong satu latihan aku satu kali. Masa besok libur lagi?" jawab Arsya. Sandra diam, ia sedang berpikir. "Atau mau hari Sabtu jam sepuluh aja nyari kadonya? Mal sudah buka kalo jam segitu." "Aku latihan sampe jam sebelas." "Ckk, sudahlah... kamu nggak bisa semua, aku jadi malas," sahut Sandra merajuk. "Kamu pergi cari kado sendiri atau ajak temen aja, San, yang penting pestanya kita sama - sama," kata Arsya. "Nggak usah lah, aku sudah malas perginya," kata Sandra sambil menatap lurus ke depan. Hening beberapa detik. "Ya udah ..ya udah, besok aja pulang sekolah kita cari kado, kalo hari Sabtu, aku nggak bisa bolos." Sandra baru tersenyum. "Begitu dong. Masa aku mau disuruh pergi sendiri ... kalo gini kan aku makin sayang sama kamu." Arsya ikut tersenyum melihat pacarnya senang lagi walau ia harus berkorban...rasanya tidak sia - sia.. "Kita pakai baju yang mirip warnanya ya, Sya. Aku nanti pake dress hijau botol." "Ijo botol? Kek mana pula warna ijo botol? Nggak ada aku baju warna ijo. Nggak suka juga aku warna ijo. Nggak ada bajumu warna hitam aja?" "Terlalu biasa, Sya. Aku yakin pasti banyak yang pake baju warna hitam. Aku harus beda." "Ah susah kali. Kamu aja yang pake ijo botol itu. Aku pake hitam atau abu-abu aja." "Kamu gitu. Hijau itu keren, Sya. Nanti kita cari kemeja yang mirip." "Nggak mau aku. Aku nggak suka warna ijo. Nggak akan diusir kan kita sama si Karina gara - gara nggak sama bajunya?" "Ya nggak gitu juga. Tapi kan jadi serasi kalo tone warnanya sama." "Lihatlah nanti. Kalo nggak suka aku sama model bajunya, nggak jadi ya. Aku pake baju yang aku punya aja." "Iya. Kamu harus percaya sama seleraku memilih baju," jawab Sandra percaya diri. Mobil terus melaju di bawah cahaya sore yang perlahan meredup. Arsya tersenyum, merasa segalanya berjalan baik - baik saja. --- Ketika Arsya pulang, mobil Arman sudah terparkir rapi di halaman rumah. Ia tidak heran. Abangnya itu memang teng-go. Tidak ada acara mampir-mampir, begitu pikirnya. Sekolah–rumah, rumah sekolah. Hidupnya lurus kayak penggaris. Yang sedikit membuat Arsya berhenti sejenak adalah keberadaan mobil papa dan mamanya yang juga sudah ada di rumah. Tapi ia tidak terlalu khawatir. Jam masih menunjukkan pukul lima sore. Ini bahkan belum dianggap pulang malam. Selisihnya cuma sekitar tiga jam dari jam pulang sekolah normal. Aman, pikirnya. Arsya masuk rumah dengan langkah mulus, nyaris tanpa suara. Ruang tengah sepi. Televisi mati. Tidak ada aroma masakan dari dapur. Papanya dan mamanya pasti masih di kamar. Arman juga sama. Rumah besar itu terasa seperti gedung kosong yang ditinggali orang - orang sibuk. Ia langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya. Begitu pintu tertutup, Arsya menghembuskan napas panjang. Badannya capek, tapi hatinya entah kenapa ringan. Sore ini ia habiskan bersama Sandra. Nonton, makan, ngobrol. Hal - hal sederhana yang entah kenapa terasa penting kalau dilakukan bareng pacar baru. Pacar baru lagi, tepatnya. Ia melempar tas ke kursi, lalu masuk ke kamar mandi. Air dingin mengalir, membasahi kepala dan bahunya. Semua penat seolah ikut hanyut. Setelah mandi, ia mengenakan kaus dan celana rumah, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur sebentar. Tangannya meraih ponsel. Ada satu pesan dari Sandra. Sandra Sudah sampai rumah? Arsya tersenyum tanpa sadar. Ia langsung membalas. Arsya Sudah. Baru mandi. Sandra Pasti capek ya? Arsya Capek tapi senang. Balasan dari Sandra datang cepat. Sandra Yang penting kamu selamat sampai. Jangan lupa makan malam. Kalimat sederhana itu saja sudah cukup membuat Arsya merasa diperhatikan. Saat ini, rasanya ia tidak butuh siapa pun selain Sandra. Ditanya hal kecil saja sudah bikin bahagia. Tak lama setelah magrib, seperti yang sudah bisa ditebak, ketukan terdengar di pintu kamarnya. "Mas, dipanggil makan," suara Kak Linda salah satu ART rumah mereka terdengar dari luar. "Iya, kak," jawab Arsya. Langkah kaki menjauh. Dari dalam kamar, Arsya bisa mendengar ketukan yang sama di pintu kamar Arman. Beberapa detik kemudian, Arsya membuka pintu kamarnya. Hampir bersamaan, pintu kamar Arman juga terbuka. Mereka saling pandang sebentar. "Telat kali kau pulang hari ini," komentar Arman santai. "Mana ada, baru jam lima tadi," jawab Arsya malas. Mereka turun bersama. Di bawah, papa dan mama juga baru keluar dari kamar. Seolah sudah diatur waktunya. Mereka duduk di kursi masing-masing. Meja makan sudah tertata rapi. "Gimana di sekolah, aman?" tanya Papa Kana sambil menunggu mama Ana mengambilkannya nasi. "Aman - aman aja," jawab Arman cepat. Papa Kana mengangguk, lalu menoleh ke Arsya. "Mas gimana?" "Aman juga, Pa," jawab Arsya singkat. "Eyang mau datang hari Minggu nanti," kata Papa Kana melanjutkan. "Kalian jangan banyak acara ya. Lebih sering di rumah selama mereka ada." "Iya, Pa," jawab Arman. "Eyang sama siapa?" "Sama Yangti." "Owh." "Nggak ada yang nemenin, Pa?" tanya Arsya. "Ada, tapi belum tahu siapa. Mas Dhannis sama Mas Dharren lagi nggak bisa. Mungkin Tante Dea atau Om Azki. Bisa juga Om Owka atau Aa Bian kalau mereka kebetulan terbang ke sini." "O…" Mama Ana sejak tadi diam. Benar - benar fokus makan. Tidak ikut menyela atau berkomentar. Dan belum ada yang menyadarinya. Mereka bertiga, Papa Kana, Arsya, dan Arman lanjut membahas rencana kalau Eyang Nino dan Yangti Sarah datang. Biasanya jalan-jalan, makan di luar, atau sekadar duduk di rumah sambil cerita panjang. Setelah makannya selesai, Mama Ana meletakkan sendok dan garpunya dengan rapi di atas piring kosong. Ia menyeka bibirnya dengan tisu, lalu menatap Arsya. "Mulai besok Mas Arsya pulang sekolah langsung ke rumah. Nggak kemana - mana. Tidak ada main ataupun nongkrong selama satu minggu ke depan." Arsya membeku. "Loh, kenapa, Ma?" katanya cepat. "Aku kan ada latihan basket juga. Kok aku nggak boleh pergi - pergi?" Mama Ana mengangkat alis. "Ngerasa nggak ada salah rupanya?" Detik itu juga, ingatan tentang tugas fisika menghantam kepala Arsya tanpa aba - aba. Wajahnya langsung berubah. Bahunya turun. "Iya, aku tahu," katanya pelan. "Kenapa kau?" tanya Arman. Papa Kana pura - pura tidak dengar apa - apa. Ia malah sibuk mengambil kerupuk, seolah itu makanan terpenting di dunia saat ini. "Aku lupa nggak buat tugas fisika," jawab Arsya nyaris berbisik. "Kiamat, asik pacaran aja, kau" komentar Arman santai, lalu lanjut makan. Arsya menoleh tajam ke kakaknya, lalu beralih ke mamanya. "Boleh nggak, Ma, hukumannya mundur dulu seminggu?" pinta Arsya. "Aku sudah banyak kali janji, Ma." Mama Ana tersenyum tipis. Terlalu tipis untuk disebut ramah. "Pernah rupanya Mama kasih dispensasi?" katanya tenang. "Boleh aja kita coba. Kita mundurkan hukumannya satu minggu ke depan." Hati Arsya langsung bersorak. Ia mengangguk cepat. "Tapi tambahkan tiga minggu ya. Biar genap satu bulan. Kita mulai dari minggu depan." Senyum Arsya langsung runtuh. "Nggak kayak gitu juga, Ma. Maksudku cuma geser waktu aja." "Oh nggak ada itu," jawab Mama Ana datar. "Kita kan sudah bikin janji. Ada prestasi ada reward. Ada kelalaian ada punishment. Kelen sudah banyak kali dapat reward. Kalau bikin salah, terima juga hukumannya." Mama Ana berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Oh ya, satu lagi. Nggak ada ke sekolah bawa mobil. Numpang sama Bang Arman." "Nggak bisa, Ma," sela Arman tiba - tiba. "Biar diantar jemput sopir aja. Soalnya aku pulang sama Dede, sama temannya juga Tanti. Kadang kami mampir dulu. Belum tentu orang itu mau kalau ada Arsya." Arsya menoleh kaget ke arah kakaknya. Rasanya tidak percaya. Di saat seperti ini, Arman malah membela Dede dan Tanti. Tiba - tiba ponsel Mama Ana berdering menginterupsi obrolan mereka. Ia berdiri sambil berkata, "Kasih tahu Mama, mau pilih yang mana. Mulai besok atau mulai minggu depan." Ia menjauh untuk mengangkat Hape khusus dari rumah sakit. Papa Kana menatap Arsya, senyumnya tertahan. "Nggak usah cari gara - gara. Mamamu itu pintar, makanya Papa mau. Kalau dia bodoh, udah dibiarkannya aja anaknya mau belajar atau enggak." "Pa, bantulah," rengek Arsya putus asa. "Aku udah banyak kali janji." "Maafkan Papa, anakku," jawab Papa Kana dramatis. "Soal yang satu itu Papa nggak bisa bantu. Papa nggak mau cari masalah dengan mamamu, uruslah sendiri masalahmu. Enjoy." Arman tertawa kecil. Arsya memutar bola matanya malas. Tidak mungkin Papanya tidak punya kuasa. Tapi dasar bucin! Mama Ana kembali ke meja. "Jadi, sudah Mas Arsya pilih? Mau seminggu atau sebulan?" Arsya menghela napas panjang. "Seminggu, Ma." "Hmm." Mama Ana menoleh ke Papa Kana. "Aku ke rumah sakit jam delapan nanti." "Iya, sayang. Mau aku antar?" "Nggak usah. Sopir aja. Kamu pasti capek juga." "Nggak lah. Orang cuma di depan aja. Aku juga nggak tahu mau ngapain di rumah, apalagi lihat muka Mas Arsya yang lagi sedih ini." Arsya melotot, ia khawatir mamanya terpancing lagi. Mama Ana langsung menimpali, "Rasa sedihnya harus seimbang dengan rasa gembiranya kalau terima hadiah. Biar nggak diulang lagi." Nah kan... Arsya tahu, pembicaraan itu belum selesai. Biasanya, kalau Mama Ana sudah dipancing, akan selalu ada babak lanjutan. Dan sepertinya ini baru jadi permulaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD