Malam semakin larut. Meja panjang yang tadi penuh dengan piring dan gelas kini mulai lengang. Beberapa sudah kosong, beberapa masih menyisakan saus dan remah kecil. Tawa belum benar - benar hilang, tapi energinya mulai turun, berganti dengan rasa kenyang dan puas. Salah satu teman Arman berdiri lebih dulu. "Eh foto dulu dong sebelum bubar! Ini momen bersejarah, bro!" "Bener! Jangan sampai cuma ada di ingatan doang," sahut yang lain. Kursi - kursi langsung bergeser. Suara gesekan kaki kursi terdengar bersahut - sahutan. Mereka berkumpul di satu sisi ruangan yang cukup lapang dengan latar belakang dinding bata ekspos dan lampu gantung hangat khas Milan Cafe. "Sya, tolong fotokan dulu kami," kata Arman. Arsya langsung berdiri sambil menerima beberapa ponsel yang disodorkan bergantian.

