"Dream wedding?" Kalimat itu sempat melintas begitu saja di kepala Tanti, tapi cuma sebentar lalu hilang. Atau lebih tepatnya sengaja dihilangkan. "Ah, sudahlah … lupakan aja," batinnya. Bukan karena tidak punya impian atau tidak peduli. Tapi karena ia tahu, dalam keluarga besar seperti ini, pernikahan bukan hanya milik dua orang. Ada orang tua, ada keluarga besar, ada relasi dan juga ekspektasi. Dan semua itu… punya suara. Beruntungnya, Mama Ana memiliki calon menantu seperti Tanti dan Dede. Atau dalam kondisi sekarang hanya diwakili oleh Tanti yang tidak banyak menuntut atau ada keinginan aneh - aneh. Dia tidak ribet setiap kali ditanya, "Setuju nggak kalau temanya kayak ini?" "Setuju, Ma." "Warna dekorasinya ini, ya?" "Iya, bagus kok." "Undangannya agak banyak nih, nggak ap

