Bibir mereka akhirnya bertemu. Awalnya pelan, ragu, seperti ingin memastikan semuanya benar - benar sudah mereda. Ada jeda sepersekian detik sebelum keduanya membiarkan diri tenggelam dalam perasaan yang sejak tadi ditahan. Lalu ciuman itu berubah sedikit lebih dalam, lebih hangat, bukan karena amarah, melainkan karena rindu yang tertahan sejak kemarin. Tanti meremas ringan bahu Arman. Jemarinya mencengkeram kain kemeja itu seolah takut kehilangan. Ciuman itu bukan sekadar mesra, tetapi seperti pengakuan diam bahwa mereka masih saling memilih, masih ingin bertahan, masih tidak rela melepaskan satu sama lain. Arman menjauh sebentar, menempelkan keningnya ke kening Tanti. Napas mereka masih saling bersentuhan. "Jangan bikin aku khawatir lagi. Aku sayang kamu," katanya pelan, suaranya seri

