"Kek mana nggak ketawa, kamu baru ngomong sekarang, sementara tiap hari sudah dicicil buatnya." Ucapan Arsya langsung membuat wajah Dede memerah, bukan karena marah sepenuhnya, melainkan campuran malu dan kesal karena kalimat itu memang tidak sepenuhnya bisa ia bantah, ia tahu betul bagaimana beberapa minggu terakhir mereka menjalani semuanya tanpa banyak perhitungan, hanya mengikuti kedekatan yang terasa alami sebagai suami istri. Dede mengalihkan pandangan, bibirnya sedikit mengerucut, mencoba tetap mempertahankan nada bicara yang terdengar wajar meskipun hatinya tidak sepenuhnya tenang. "Maksudku, kalau bulan besok ini aku masih dapat, kita program dulu," katanya, berusaha menjelaskan dengan lebih jelas apa yang sebenarnya ia inginkan. Arsya tidak langsung menjawab, ia masih terseny

