Arsya berdiri beberapa langkah dari resto tempat Dede bersama Arman dan Tanti berada. Jaraknya tidak sampai sepuluh meter. Dari tadi Arsya sudah menunggu kedatangan mereka, ia memantau ketika ketiganya masuk ke dalam resto dan duduk lalu memesan makanan. Dari tempatnya berdiri, ia tidak bisa melihat jelas wajah Dede yang sedang menunduk menatap layar ponselnya. Rambutnya jatuh rapi di bahu, sedikit bergelombang setelah dari salon. Ia memakai baju yang Arsya belum pernah lihat sebelumnya. Senyum Arsya perlahan mengembang. Ini nyata, bukan layar hape. Bukan juga video call yang kadang tersendat sinyal. Benar - benar di depan mata. Arman dan Tanti duduk bersebelahan menghadap pintu masuk. Tapi keduanya sedang fokus pada ponsel Arman, sepertinya Arman sedang menunjukkan sesuatu. Dede du

