Pagi itu di Medan, Arsya sudah duduk rapi di meja makan bahkan sebelum jam menunjukkan pukul tujuh. Ia memakai kemeja tangan pendek dan bercelana bahan, rapi, tidak terlalu formal tapi juga tidak terlalu santai. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi barusan, bahkan belum sempat Ia sisir. Di hadapannya, Papa Kana sedang membaca koran bisnis dengan serius, sesekali melihat ke arah Arsya. Mama Ana baru saja selesai menerima telepon singkat dari Rumah Sakit Royal soal konsultasi pasien yang baru saja masuk ke rumah sakit karena sudah ada pembukaan, kini ia ikut bergabung di meja makan. "Papa sudah baca email proposal yang Mas Arsya kirim dua hari yang lalu," kata Papa Kana tanpa banyak basa - basi. Kini ia meletakkan koran yang dibacanya di atas meja. Arsya mengangguk. "Yang timeline r

