Arman Aku di Diary Coffee, masih ngobrol sama kawanku. Nanti pas di rumah aku telpon. Akhirnya jawaban dari Arman masuk tepat ketika Tanti sedang berdiri di depan salah satu etalase toko di lantai atas. Tadi sewaktu ponselnya bergetar di genggamannya, ia langsung membukanya dengan jantung yang berdebar. Ada rasa takut ketahuan juga soalnya. Tanti Oke. Lagi-lagi hanya "oke" yang ia kirimkan. Tidak lebih, tidak kurang. Padahal kepalanya penuh dengan kalimat - kalimat lain yang ingin ia tulis. Namun ia memilih menahannya. Ia tidak ingin terlihat terlalu ingin tahu. Setelah itu, ia mendekati salah seorang petugas keamanan yang berdiri tak jauh dari eskalator. "Bang, Diary Coffee di mana, ya?" tanyanya berusaha terdengar santai tapi lupa memanggil ' Mas' selazimnya orang Jakarta. "Oh, d

