Minggu Bersama

1892 Words

Restoran itu makin ramai menjelang tengah hari. Suara sendok beradu dengan piring, tawa kecil keluarga lain, dan alunan musik Melayu yang diputar pelan jadi latar suasana. Meja besar yang sudah dipesan Mama Indah berada agak di tengah, cukup terbuka, tapi masih terasa privat. Arsya duduk bersandar di kursinya. Wajahnya terlihat suntuk sejak tadi. Dari awal masuk restoran, Mama Ana diam - diam beberapa kali meliriknya, ada senyum khas ibu - ibu yang merasa anaknya menyimpan cerita. Arman duduk di sebelahnya, jauh lebih santai. Tangannya sibuk dengan ponsel, sesekali ia ikut nimbrung obrolan Papa Kana dan Papa Sapta soal restoran ini. "Mas, kenapa dari tadi diam aja?" tanya Mama Ana akhirnya, sambil merapikan tisu di pangkuannya. "Nggak kenapa - napa, Ma," jawab Arsya cepat. "Halah … ka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD