Pulang dari bioskop, langkah mereka bukannya mengarah ke pintu keluar mall, tapi justru berbelok ke lantai tempat deretan restoran berjajar. Anak muda seperti mereka memang begitu, makan bukan semata karena perut, tapi juga karena suasana. Tempatnya harus pas, bisa duduk lama, bisa ngobrol tanpa dikejar waktu. "Ke mana lagi kita?" tanya Arman sambil melirik kanan - kiri. Dede sudah lebih dulu berjalan di depan, tangannya menunjuk satu papan nama beraksen kayu dengan huruf Jepang. "Ke situ lah. Aku pengen ramen," katanya. Arsya tidak membantah. Sejak tadi pun ia cuma ikut arus. Kalau Dede mau ramen, ya ramen. Tidak ada debat, tidak ada usulan alternatif. Arman pun sama saja, tidak banyak bicara ia mengikuti langkah Dede. Hari Minggu sore mall itu sangat ramai, apalagi ini baru minggu p

