Darah di Atas Saine

2095 Words

Angin musim gugur menabrak pilar-pilar Pont Alexandre III, membawa bau logam Sungai Seine yang hitam pekat. Cahaya lampu kota bergetar oleh kabut malam, seperti Paris sedang menahan napasnya sendiri. Dominick berdiri di tengah jembatan, tubuhnya membentuk siluet gelap, matanya menyala seperti bara yang baru disiram bensin. Tatapannya terpaku pada Elira, yang masih tersenyum seakan baru memenangkan permainan kecilnya. Di kejauhan... suara klik halus terdengar berulang. Dominick tidak perlu melihat untuk tahu itu suara apa. Dia sangat hapal suara kokangan senjata. Dan dia bisa menebak berapa banyak sniper yang sedang bersiap menunggu perintah di lokasi itu. Dia tak ingin gegabah, karena ingat masih ada nyawa yang harus dia dia pertimbangkan. Maklum saja, sniper itu siap melesatkan pelur

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD