Salju turun tanpa suara di luar mulut gua, menutupi jejak darah dan tanah yang masih basah setelah pertempuran panjang. Angin Alpen menyelinap masuk, membawa aroma pinus bercampur dingin yang menggigit. Namun di dalam gua, atmosfera yang tercipta justru hangat, hangat yang hanya muncul ketika dua jiwa saling menggenggam agar tidak tenggelam dalam gelap. Sherina menuntun Dominick masuk ke bilik batu kecil yang sebelumnya dipakai sebagai ruang medis darurat. Lampu kecil portable memantulkan cahaya lembut ke wajah suaminya, lelaki yang selama ini berdiri sebagai tameng hidup bagi dirinya dan Jason. Dominick duduk perlahan di ranjang tipis. Nafasnya berat. Pundaknya jatuh. Luka di tubuhnya jelas menjerit, tapi bukan itu yang membuatnya tampak hancur, melainkan kenyataan bahwa neneknya sendir

