Hening bawah tanah Paris tidak pernah benar-benar hening. Ada suara tetes air menimpa batu. Ada gema langkah-langkah musuh dari kejauhan. Dan ada satu napas tercekat—napas Sherina—yang terdengar semakin berat. Dominick merapatkan tubuhnya pada sang istri untuk menahannya tetap sadar. Pipinya menempel pada rambut Sherina yang basah oleh hujan dan keringat. Dia bisa merasakan betapa cepat detak jantung wanita itu. "Sher... tahan sedikit lagi." Suara Dominick rendah, hampir memohon. Sherina mencoba mengangguk tapi kepalanya goyah. "Kepalaku... berputar, Dom... air... aku butuh..." suaranya melemah, hampir tenggelam di kepekatan terowongan. Dominick menelan ludah. Jantungnya bergetar di balik otot-otot tegangnya. Ketakutan itu kembali—ketakutan terbesar seorang prajurit: kehilangan

