Peluru memecah udara basah Paris, menimbulkan gema tajam yang memantul dari dinding-dinding batu abad pertengahan. Dominick menarik Sherina ke balik deretan tong kayu tua di belakang sebuah bar gelap. Nafas mereka saling bertabrakan—cepat, gemetar, tapi tetap sinkron. Ghostline menyebar dalam formasi setengah lingkaran. Gerakan mereka senyap, terlatih, hampir seperti bayangan yang belajar berburu manusia. Sherina menunduk, menggenggam pistol kecil dengan kedua tangan. Dominick meletakkan telapak hangatnya di pipinya, memfokuskan matanya. "Sayang..." suara Dominick rendah namun stabil. "Lihat aku." Sherina mengangkat wajahnya, mata memerah oleh ketakutan... dan tekad. Dominick menyentuh dahinya singkat. "Kau tidak sendirian. Kau tidak akan pernah sendirian. Dengarkan aku baik-baik,

