Paris—malam itu bukan lagi kota seni dan cahaya apalagi kota romantis. Bukan Eiffel, bukan Seine, bukan musik di kafe pinggir jalan. Malam itu... Paris adalah ladang pemburu bagi mereka. Dan di tengahnya... Dominick dan Sherina berjalan cepat melewati jalan berbatu Rue de Lark—di mana hujan tipis menetes seperti jarum-jarum halus yang mengukir rasa genting di kulit. Dominick tidak berhenti memindai sudut-sudut gelap. Setiap refleksi kaca, setiap pintu kayu tua, setiap bayangan, semua diperlakukan sebagai ancaman. Dia tampak sangat berhati-hati terlebih ada wanita yang sngat dia cintai bersamanya. Sherina berjalan sangat dekat di belakangnya, memegang gagang senjata kecil yang Dom berikan tadi sore. Tangannya dingin... tapi genggamannya stabil. Sekilas, mereka tampak seperti pasang

