43

1026 Words

Amindita terbangun dalam kegelapan kamar yang pengap. Indra perasanya menangkap sesuatu yang tidak biasa—sebuah tekanan hangat dan kokoh yang melingkar posesif di pinggangnya. Berat tangan itu begitu menekan dan dapat Amindita kenali, namun keberadaannya di ranjang kayu sempit ini terasa seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Jantungnya berdegup kencang saat ia mencoba bergeser untuk melihat siapa yang berani menyusup ke kamar masa kecilnya. Namun, sebuah erangan rendah dan serak menahannya. "Jangan bergerak. Biar seperti ini dulu," bisik suara itu, dalam dan sarat akan kelelahan yang luar biasa. "Mas Pradi?" Amindita terkesiap. Suara itu tidak mungkin salah. "Hm... lima menit saja, Dita." Amindita membeku. Ia merasakan embusan napas Praditya yang hangat sekaligus beraroma samar alko

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD