Malam belum benar-benar berakhir bagi Matteo. Kota sudah mulai sepi, jalanan dipenuhi lampu kuning yang memanjang seperti garis tak berujung. Namun di dalam mobil hitam yang melaju cepat itu, suasana terasa seperti perang yang belum selesai. Matteo menyetir sendiri. Tangannya kuat di setir, rahangnya masih mengeras sejak keluar dari bangunan tempat Maya tadi. Victor duduk di kursi penumpang, sesekali meunatap layar tablet yang berisi berbagai laporan dari orang-orang mereka yang tersebar di kota. Nama yang sekarang menjadi pusat perhatian mereka hanya satu. Jefri. Anak Leonard. Anak dari pria yang pernah mencoba menjatuhkan Matteo bertahun-tahun lalu. Matteo mengingat Leonard dengan sangat jelas. Pria itu dulu sering tertawa keras, berbicara tentang bisnis dengan percaya diri seol

