Mariana diseret keluar dari rumah tua itu dengan langkah yang terseret-seret. Wajahnya pucat, rambutnya sudah tidak serapi sebelumnya, nafasnya terengah karena panik dan amarah yang bercampur jadi satu. Dua orang anak buah Matteo mengawalnya dengan jarak aman, tidak menyakitinya, tapi cukup tegas untuk memastikan dia tidak kabur atau berbuat nekat. Sepanjang perjalanan, Mariana terus meronta. “Lepasin aku! Kalian nggak punya hak! Lepasin aku!” teriaknya, suaranya serak, penuh kemarahan dan ketakutan yang mulai merayap. Tidak ada yang menanggapi. Mesin mobil menyala, dan mereka melaju meninggalkan tempat itu. Mariana duduk di kursi belakang, diapit dua orang, tangannya terikat ke depan hanya untuk mencegah dia melukai siapa pun, bukan untuk menyiksanya. Tapi bagi Mariana, situasi itu sud

