Tangga menuju ruang bawah tanah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Matteo menuruni anak tangga satu per satu, langkahnya tenang tapi rahangnya mebngeras. Di balik pintu besi itu, teriakan Mariana masih terdengar—parau, putus-putus, campur aduk antara marah dan takut. “Buka! Matteo! Aku minta kamu buka sekarang! Kamu nggak bisa ngelakuin ini ke aku!” suara itu menggema di ruang sempit. Matteo berhenti di depan pintu. Dia menarik napas pelan, bukan untuk menenangkan diri—melainkan untuk memastikan dirinya tetap terkendali. Lalu dia membuka pintu dan melangkah masuk. Mariana berdiri di tengah ruangan, rambutnya berantakan, matanya merah. Begitu melihat Matteo, dia langsung mendekat beberapa langkah, lalu terhenti, seolah sadar jarak itu masih terlalu jauh untuk ditembus. “Kamu lihat,

