Malam semakin larut ketika Zenia tiba-tiba terbangun dengan napas yang sedikit tertahan. Tangannya refleks memegang perutnya. Keram. Tidak terlalu tajam. Tidak seperti kontraksi yang menyakitkan. Tapi cukup membuatnya meringis dan membuka mata sepenuhnya. Usia kehamilannya sudah delapan bulan. Bahkan tinggal seminggu lagi menuju bulan kesembilan. Tubuhnya semakin berat. Gerakan bayi semakin kuat. Dan beberapa hari terakhir, ia memang sering merasakan perut mengeras sebentar. Dokter sudah menjelaskan. Itu biasa. Kontraksi palsu. Tubuh sedang bersiap. Tapi ketika rasa itu datang di tengah malam, tetap saja membuat jantungnya sedikit berdegup lebih cepat. Zenia menarik napas pelan. “Ah…” Matteo yang masih memeluknya dari belakang langsung terbangun. “Apa?” Suaranya serak karena b

