Bab 161

1861 Words

Zenia benar-benar tidak menyangka Mariana akan muncul lagi secepat ini. Bel baru saja berbunyi, dan begitu pintu dibuka, senyum yang sama itu kembali muncul di depan wajahnya. Senyum yang terlihat manisb, tapi entah kenapa selalu membuat perut Zenia terasa tidak nyaman. “Ada perlu apa lagi,” tanya Zenia dingin, tanpa berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya. Mariana tertawa kecil, seolah pertanyaan itu hanya candaan. “Kok dingin sekali. Aku cuma mau mampir.” Sebelum Zenia sempat berkata apa-apa lagi, Mariana sudah melangkah masuk. Tanpa menunggu diundang. Tanpa menunggu dipersilakan. Zenia refleks memutar badan, mengikuti langkah sepupunya itu dengan alis berkerut. “Kamu tidak sopan,” kata Zenia tegas. “Aku belum bilang kamu boleh masuk.” Mariana berhenti sebentar, menoleh dengan ek

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD