Bel rumah berbunyi satu kali, cukup nyaring untuk terdengbar sampai ke ruang tengah. Zenia yang sedang duduk bersama Aidan langsung menoleh. Ia berdiri pelan, mengusap perutnya sebentar, lalu berjalan ke pintu. Begitu pintu terbuka, langkah Zenia langsung terhenti. Mariana berdiri di sana. Rambutnya rapi, pakaiannya terlihat mahal, senyumnya lebar, terlalu lebar untuk seseorang yang selama ini nyaris tidak pernah muncul di hidup Zenia. Zenia menatapnya beberapa detik tanpa berkata apa-apa, seolah memastikan apa yang ia lihat itu nyata. “Zenia,” sapa Mariana dengan suara manis. “Akhirnya aku bisa ketemu kamu juga. Aku kangen.” Zenia mengangkat alisnya sedikit. Di dadanya, ada rasa tidak nyaman yang langsung muncul. “Kangen,” ulangnya pelan, lalu mendengkus kecil. “Sejak kapan.” Marian

