Hari kepulangan itu akhirnya tiba. Dua hari di rumah sakit terasa lama sekaligus singkat. Zenia sudah mulai bisa berjalan lebih nyaman meski tubuhnya masih terasa lelah. Bayi kecil mereka—yang kini resmi diberi nama yang lembut dan indah—tertidur tenang di dalam baby car seat, terbungkus selimut warna pastel yang dipilih Matteo dengan terlalu serius. Perawat terakhir kali memeriksa kondisi Zenia. “Semua baik. Luka bagus. Bayi sehat. Boleh pulang.” Kalimat sederhana itu membuat Zenia tersenyum lebar. Pulang. Kata itu terasa hangat. Matteo membantu mengemas barang-barang kecil yang tersisa. Tas bayi, tas Zenia, beberapa hadiah dari keluarga yang sudah datang menjenguk. Aidan berdiri di samping kursi roda Zenia dengan ekspresi tidak sabar. “Kita pulang sekarang?” “Iya,” jawab Matteo

