Langit sore itu berwarna kelabu ketika konvoi mobil hitam milik Matteo melaju keluar dari halaman kantor pusatnya. Tidak ada sirene. Tidak ada tanda mencolok. Namun siapa pun yang melihat iring-iringan itu pasti tahu—mereka sedang menuju sesuatu yang serius. Di dalam mobil paling depan, Matteo duduk di kursi belakang dengan wajah setegang batug. Tangannya saling bertaut. Tatapannya lurus ke depan. Di sebelahnya duduk Adrian yang memegang tablet berisi denah kawasan industri timur. “Gudang itu berada di blok paling belakang,” ujar Adrian pelan. Matteo tidak menoleh. “Berapa orang di dalam?” “Kita tidak tahu pasti.” Matteo mengangguk singkat. Ia tidak membutuhkan kepastian. Instingnya sudah berbicara lebih keras dari bukti apa pun. Zenia ada di sana. Ia merasakannya. Mobil-mobi

