Pagi datang perlahan di rumah besar itu. Cahaya matahari yang lembut menembus tirai tipis kamar Matteo dan Zenia. Udara pagi terasa lebih tenang dibandingbkan malam sebelumnya. Rumah itu masih sunyi karena sebagian besar penghuni rumah belum benar-benar memulai aktivitas. Namun Matteo sudah bangun sejak lama. Sejak seminggu lalu, pria itu hampir tidak pernah tidur dengan tenang. Bahkan malam tadi pun ia hanya tidur beberapa jam di kursi dekat ranjang Zenia, karena tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian. Matteo membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah Zenia. Istrinya masih tertidur di ranjang besar itu. Wajahnya memang masih pucat, namun napasnya sudah lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya. Infus masih terpasang di tangannya, namun dokter sudah mengatakan ko

