Pagi itu rumah terasa lebih tenang dari biasanya. Sinar matahari masuk lewat jendela ruang keluarga, jatuh di lantai dan menyentuh kotak mainan Aidan yang masih terbuka sejak semalam. Matteo sudah siap lebih awal. Kemejanya rapi, jaketnya tergantung di tangan, dan kunci mobil sudah ada di saku. Dia beberapa kali melirik jam, bukan karena terburu-buru, tapi karena ada rasa cemas yang sulit dijelaskan sejak bangun tidur. Hari ini, dia akan membawa Zenia periksa kehamilan. Di dapur, Zenia sedang menyiapkan sarapan ringan. Gerakannya pelan, satu tangannya sesekali menyentuh perutnya yang mulai terlihat sedikit membulat. Aidan duduk di meja makan, mengayun-ayunkan kakinya sambil menggigint roti. “Mama sama Papa mau ke dokter hari ini?” tanya Aidan sambil mengunyah. Zenia tersenyum. “Iya, Na

