Sore itu kompleks perumahan mereka terasa hidup. Matahari mulai turun, langit berwarna keemasan, dan anak-anak berlarian di jalan kecil yang sudah biasa dijadikan arena bermain. Ada yang bermain bola, ada yang berlari mengejar layang-layang, dan beberapa anak mengayuh sepeda kecil mereka dengan tawa lepas. Aidan berdiri di teras rumah, kedua tangannya bertumpu di pagar rendah. Matanya mengikuti gerakan anak-anak yang melintas di depan rumah. Ada sepeda merah dengan roda kecil di sampingnya. Ada sepeda biru dengan keranjang depan. Ada juga sepeda yang sedikit lebih besar, dikayuh dengan percaya diri oleh anak seusianya. Tatapan Aidan tidak berpindah. Zenia yang sedang duduk di kursi teras memperhatikan itu. Ia tidak langsung bertanya. Ia hanya mengamati. Aidan menelan ludah kecil. Kakin

