Bab 191

950 Words

Hari itu di rumah. Semua masih terasa baru. Ritme belum terbentuk. Wbaktu seperti berputar tanpa jeda antara siang dan malam. Althea terbangun lebih sering hari itu. Bukan hanya untuk menyusu. Bukan hanya karena popok. Ia menangis. Dan menangis. Dan menangis lagi. Tangisnya tidak selalu keras, tapi cukup lama dan cukup sering hingga membuat kepala terasa penuh. Zenia sudah menggendong. Sudah menyusui. Sudah mengganti popok. Sudah menepuk punggungnya. Sudah mengayun pelan sambil berjalan bolak-balik di kamar. Namun Althea tetap merengek, wajah kecilnya memerah, tubuh mungilnya menggeliat tidak tenang. “Kenapa, sayang…” suara Zenia mulai terdengar lelah. Ia duduk di tepi tempat tidur, Althea di pelukannya, mencoba menyusui lagi meski baru saja dilakukan satu jam lalu. Althea

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD