Mariana masih berdiri di depan jendela rumah kontrakannya, menatap keluar dengan senyum tipis yang dingin. Ponsel di tangannya belum ia turunkan setelah panggilan itu berakhir. Dua preman yang baru saja pergi meninggalkan ruangan itu melaksanakan perintahnya tanpa banyak tanya. Bagi Mariana, itu sudah cukup. Dia tidak butuh orang-orang yang berpikir. Dia hanya butuh orang-orang yang patuh. “Zenia… Matteo… kali ini aku ingin lihat kalian benar-benar hancur,” gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan untuk dirinya sendiri. Di sisi lain kota, sore itu terasa jauh lebih tenang. Zenia duduk di ruang keluarga sambil memperhatikan Aidan yang sedang bermain dengan anjing kecil kesayangannya di lantai. Anak itu tertawa kecil setiap kali anjing itu mencoba merebut mainan dari tangannya. Matteo berdir

