Malam itu, Mariana duduk di tepi ranjang kamar kecilnya dengan punggung tegang. Lampu meja menyala redup, memantulkan bayangan wajahnya di dinding. Tangannya menggenggam ponsel, lalu melepaskannya, lalu menggenggam lagi. Ada kemarahan yang tidak mau padam, bercampur rasa iri yang menyesakkan. Di kepalanya, satu nama terus berputar, Zenia. “Kenapa selalu dia,” gumamnya. “Kenapa dia selalu dapat semuanya.” Mariana berdiri, berjalan mondar-mandir. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu ada garis yang tidak boleh dilewati. Tapi ia juga tahu, ada banyak cara untuk merusak hidup seseorang tanpa menyentuhnya sedikit pun. Dan ia memilih jalan itu. Keesokan paginya, di kantor, Mariana tampil seperti biasa. Rapi, sopan, senyum tipis yang tidak pernah terlalu lama. Ia duduk di mejanya, bekerja dengan cepat

