Zenia menatap Aidan dengan lembut, duduk di sampingnya di ruang keluarga yang hangat. “Aidan, sayang… sekarang kau sudah resmi menjadi bagian dari keluarga kita,” ucapnya dengan nada penuh cinta, menundukkan tubuh agar sejajar dengan anak itu. “Kau boleh memanggilku Mama, dan Matteo Papa. Kita berdua akan selalu ada untukmu, selalu mendukungmu, dan membuatmu merasa aman dan dicintai.” Aidan menatap mereka berdua dengan mata bulat yang masih sedikit basah, masih setengah tidak percaya dengan kata-kata Zenia. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan perasaan yang campur aduk antara bahagia, takut, dan glega. “Mama… Papa…” katanya perlahan, suaranya serak dan tersendat, seolah menegaskan bahwa ia sungguh-sungguh menerima kata itu untuk pertama kalinya. Matteo tersenyum hangat, menundukk

