Zenia duduk di tepi ranjang, tangan menempel di perutnya yang terasa agak tidak nyaman. Matahari pagi menembus tirai tipis kamar, membuat cahaya hangat jatuh ke lantai kayu yang bersih dan rapi. Nafasnya terasa berat, dan kepala sedikit pusing, disertai mual yang muncul tiba-tiba. Ia menghela napas panjang sambil menatap Matteo yang sedang duduk di kursi dekat jendela, menikmati sinar matahari pagi sambil menyeruput kopi. “Sayang… aku merasa sedikit pusing dan mual pagi ini,” kata Zenia dengan suara lembut tapi penuh harap, matanya bersinar. Ia menatap Matteo, seolah mencari kepastian bahwa mungkin ini pertanda sesuatu yang selama ini mereka nantikan. Matteo segera berdiri, langkahnya cepat namun hati-hati. Ia menghampiri Zenia, menekuk tubuhnya sedikit yuntuk menatap mata istrinya denga

