Zenia masih berdiri di ruang tengah sambil menggendong anjing kecil itu, jari-jarinya mengusap bulu lembut di punggungnya dengan penuh kasih. Matanya berbinar ketika tiba-tiba ia menoleh ke arah Matteo yang sedang melepas jam tangannya. “Aku lapar,” ucap Zenia ringan, lalu tersenyum kecil. “Bagaimana kalau kita makan di restoran Jepang langgananmu?” Matteo mendongak, sedikit terkejut dengan usulan itu. “Sekarang?” Zenia mengangguk cepat. “Iya. Aku ingin ramen dan sushi. Dan…” ia melirik anjing kecil di pelukannya, “…aku mau bawa dia juga.” Matteo terdiam beberapa detik. Alisnya perlahan bertaut, bukan karena marah, tapi lebih pada berpikir bagaimana menyampaikan penolakannya tanpa membuat Zenia tersinggung. Ia melangkah mendekat, menurunkan nada suaranya agar tetap lembut. “Sayang,” u

