Bab 97

327 Words

Matteo duduk di sofa dengan tubuh sedikit merebah ke belakang, matanya menatap lurus ke depan. Namun fokusnya sama sekali bukan pada televisi yang menyala tanpa suara. Tatapannya justru terkunci pada pemandangan di sampingnya. Zenia duduk santai dengan kaki sedikit ditekuk, wajahnya lembut sambil mengelus kepala anjing kecil berbulu putih hitam itu. Dan sialnya, makhluk menyebalkan itu dengan tanpa dosa sudah naik ke atas pangkuan Zenia, meringkuk nyaman seolah itu memang tempatnya. Rahang Matteo mengeras pelan. Ia sudah membayangkan sejak tadi, setelah sarapan, dirinya akan merebahkan kepala di paha Zenia. Paha empuk itu, hangat, tempat favoritnya sejak mereka menikah. Ia ingin menutup mata, mendengar suara napas Zenia, dan merasa dunia berhenti sejenak. Tapi semua bayangan itu runtuh b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD