Sore itu, sinar matahari Jakarta mulai meredup, menebar cahaya hangat yang menyelimuti taman kota. Matteo menggenggam tangan Zenia erat, sementara Lucky, meski masih terikat tali, berlari-lari kecil di depan mereka, ekornya melambai-lambai seolah menyapa semua yang lewat. Zenia tertawa riang melihat Lucky yang begitu bersemangat, “Sayang, lihat dia! Aku tidak pernah bosan melihat Lucky senang seperti ini,” katanya sambil mencondongkan tubuhnya ke Matteo. Matteo menatap Zenia dan tersenyum, “Sayang, iya, dia memang sangat manja. Tapi lihatlah, kita harus menjaga dia agar tidak lari ke jalan. Jangan sampai kau panik.” Zenia mengangguk, masih tersenyum, “Aku tahu, Matteo. Aku hanya ingin menikmati momen ini. Sore yang damai denganmu dan Lucky, rasanya sempurna.” Lucky menggonggong pelan, b

