Matteo duduk di kursi ruang kerjanya, tangan menengadah sedikit ke wajahnya, menatap layar komputer yang nyaris tak ia perhatikan. Kantor kini sunyi. Zenia dan Lucky sudah pulang ke rumah, meninggalkannya sendirian dengan rasa sepi yang aneh—sepi tapi bukan kesepian, lebih seperti ruang kosong yang membuatnya bisa berpikir jernih. Matteo menegakkan punggungnya, menghela napas panjang, lalu menatap keluar jendela ruangannya. Sinar matahari sore menembus jendela kgaca, memantul perlahan ke meja kerjanya yang rapi tapi terasa dingin tanpa Zenia di sisi ruang itu. Hatinya tiba-tiba terasa hangat, namun penuh dengan pertanyaan yang membingungkan: bagaimana ia bisa membahagiakan Zenia, istrinya, dengan bulan madu yang sempurna? Ia menutup laptopnya perlahan, menaruh tangan di atas meja, dan me

