Anjing kecil itu benar-benar bertingkah seolah Zenia adalah miliknya seorang. Setiap kali Zenia duduk di sofa ruang tengah, anjing itu langsung melompat naik dan mengambil posisi paling dekat dengannya. Entah di pangkuan, di samping paha, atau bahkan bersandar di perut Zenia dengan gaya puas. Zenia tentu saja membiarkannya, malah sesekali mengelus kepala kecil itu dengan wajah gemas. Matteo yang awalnya duduk santai di kursi seberang mulai memperhatikan dengan tatapan menipis. Ia bangkit, lalu berjalan mendekat dan duduk di samping Zenia, berniat menyandarkan lengan di bahu istrinya seperti biasa. Belum sempat tangannya menyentuh Zenia, anjing kecil itu langsung menegakkan tubuhnya. “Grr… guk! Guk!” Matteo terdiam. Anjing itu menggonggong sekali lagi, kali ini sambil menatap Matteo ta

