Malam turun di kota dengan langit yang gelap dan jalanan yang mulai sepi. Lampu-lampu gedung tinggi menyala seperti bintang yang tersusun rapi di antara bayangan kota. Namuvn di salah satu ruangan kantor yang jauh dari pusat keramaian, suasana terasa jauh berbeda. Di dalam ruangan itu duduk dua pria dengan wajah penuh kemarahan. Victor berdiri di dekat jendela besar sambil memegang gelas minuman yang hampir kosong. Di sofa ruangan itu, Leonard duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan, kedua tangannya saling bertaut dengan kuat. Di meja di depan mereka terdapat beberapa laporan keuangan. Semua angka itu terlihat buruk. Victor menghempaskan gelasnya ke meja. “Sialan.” Leonard menatap laporan itu lagi. “Perusahaan kita benar-benar jatuh.” Victor tertawa sinis. “Jatuh?” Ia menu

