Mereka duduk di teras berdua. Elang menggenggam tangan Ayu. Ia mengerti kini apa yang dikatakan ayahnya. Khawatirnya Ayu berbeda dengan khawatirnya kedua orang tua Elang. Pernikahan mereka tinggal besok. Jika Elang tak sampai juga, bagaimana perasaan Ayu. “Maaf,” begitu kelu bibir Elang mengucapkannya. “Aku khawatir Mas Elang kenapa-napa di sana.” Elang tersenyum, genggamannya semakin erat. “Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Aku sudah di sini sekarang.” “Aku,” Ayu menghela napas sejenak. “Aku tidak mengundang siapapun untuk besok.” Elang mengernyit. Mereka memang sepakat tak banyak mengundang orang. Hanya akan ada akad nikah di rumah Ayu dengan mengundang beberapa kerabat dan sahabatnya. “Aku takut Mas Elang gak bisa pulang dengan selamat,” aku Ayu dengan suara bergetar. “Jadi

