Ali terdiam. Wajahnya mengeras. Ia sungguh tak menyangka akan melihat Ayu datang bersama seorang laki-laki yang jelas-jelas menggenggam erat tangannya. Ayu hendak beringsut mundur, tapi Elang mempertahankannya berdiri sejajar dengannya. “Aku yang akan bicara padanya,” bisik Elang. “Pak Ali, maaf, mengganggu Anda sepagi ini. Saya Elang. Kita pernah bertemu dulu saat saya masih menjadi kepala puskesmas,” Elang mengulurkan tangannya. Ali menjabatnya sekedarnya. “Ada perlu apa?” tanyanya dingin. Elang mengulurkan undangan yang tadi sempat diambilnya di rumah Ayu. “Saya dan Ayu akan menikah besok. Anda adalah ayah dari anak-anak Ayu. Jadi saya rasa, saya perlu memberi tahu Anda karena saya akan menjadi ayah sambung mereka.” Ali menatap Ayu mengabaikan undangan yang dipegangnya. Ia bahkan

