Ayu beranjak keluar menengok ketiga putranya. Mereka tampak begitu gembira bermain bola di bawah hujan. Tawanya begitu riang, seakan tak ada yang perlu mereka khawatirkan. Ayu tersenyum. Tawa mereka adalah pengobat laranya. “Mama, ayo sini main hujan,” ajak Naufal yang pertama melihat ibunya. Ayu menggeleng. Ia duduk di kursi, menaikkan kakinya dan bersila sambil memandangi ketiga anaknya yang ceria. Udara terasa begitu sejuk menyentuh kulit Ayu. Hujan yang turun tak terlalu deras itu seakan memang tercurah untuk mendinginkan bumi agar terasa lebih sejuk. “Sayang, masuk yuk, jangan lama-lama main hujannya, nanti kedinginan,” ajak Ayu setelah beberapa lama ia duduk di sana. Naufal yang pertama berlari menuju ibunya. “Eh, basah semua. Lewat belakang. Kasihan Eyang harus ngepel lagi,”

