Elang mendekat setelah membiarkan kedua bocah itu dirasa cukup meluapkan emosinya. Anak-anak sekecil itu, menghadapi sendiri ibunya terluka dalam percobaan bunuh diri. Mungkin keduanya tak mengerti betul apa yang terjadi, karena luka itu memang tak tepat memotong nadi, tapi nyaris. Elang menaikkan punggung ranjang yang ditempati Ayu agar ia bisa duduk bersandar dengan nyaman. Kemudian menaikkan kedua bocah itu di ujung kaki Ayu, sementara ia duduk di kursi di dekat mereka. “Mamanya sudah gak apa-apa kok,” ucap Elang menenangkan keduanya. “Dokter,” Ayu hendak menanyakan ada apa sebenarnya, tapi ia tahu sekarang bukan waktu yang tepat. Ada Azka dan Rayhan di sana. Elang hanya tersenyum tipis. “Orang tuamu sebentar lagi datang.” Ayu mengangguk. “Maaf ya, merepotkan Dokter Elang,” dia beg

