Air mata Adeeva kembali menetes. Satu dandelion sudah berhasil ia tanam di dekat nisan ayahnya. Dia baru mengerti sekarang kenapa justru bunga rumput itu yang diminta ayahnya. Lama setelah makam ayahnya kering, ia akhirnya berhasil membawa bunga itu dari halaman rumah Tante Ayu. “Abi, Tante Ayu memang sederhana, tulus, dan berani. Beliau serupa bidadari tanpa sayap.” Dadanya terasa begitu sesak. Cinta pertamanya telah pergi membawa luka yang tak pernah dibaginya dengan siapapun. Bahkan pada dirinya, yang sedari kecil merasa bahagianya begitu sempurna memiliki seorang ayah sepertinya. “Maafkan Diva, Abi. Maaf. Diva rela kok jika nanti di surga, Abi kembali pada mereka. Abi harus bahagia kelak di surga bersama mereka. Tapi mohon, ijinkan Diva tengok Abi sekali waktu ke rumah kalian kelak

