Diwangga membuka pintu ruangan Yudistira tanpa mengetuk terlebih dahulu. "Yudis, kita perlu bicara." Yudistira mengalihkan pandangan dari laptopnya, melihat ayahnya yang berdiri dengan bahu tegang. "Ada yang salah, Pa?" "Papa baru dengar dari rekan bisnis tentang rencana investasi Pak Frans di perusahaan kita. Benarkah kamu mengatur ini tanpa memberitahu Papa?" Diwangga duduk dengan gerakan cepat, matanya menatap tajam. "Benar, Pa. Kami sudah menyepakati kerja sama kemarin. Pak Frans menerima semua proposal kami," jawab Yudistira tenang. "Jadi ini caramu menggeser Pak Hamdani?" suara Diwangga meninggi. Yudistira menyatukan jari-jarinya di atas meja. "Jika saya menolak perjodohan dengan Vanessa, Pak Hamdani akan menarik investasinya. Daripada perusahaan goncang, lebih baik kita siapkan

