Malam itu, kediaman keluarga Kirana tampak ramai. Beberapa orang sibuk menata ruang tamu yang akan dipakai untuk akad. Kursi-kursi mulai disusun, kain putih digantung di dinding, dan bunga segar ditata di meja. Dari luar, suara palu terdengar ketika tenda untuk jamuan makan bersama mulai berdiri. Keluarga Kirana memang hanya mengundang tetangga sekitar. Tidak ada kabar yang disebarkan ke kerabat jauh, sesuai keputusan Hilman yang beralasan mereka cukup hadir nanti saat resepsi saja. Dari tangga, Kirana memandang sejenak hiruk-pikuk itu. Senyum tipis terulas di wajahnya, meski hatinya masih berdegup kencang. Kebaya putih gading yang terpajang di depan lemari kamarnya seakan memanggilnya. Kain jarik sudah rapi terlipat di sampingnya, siap dipakai esok pagi. Seorang MUA dijadwalkan datang l

