Diwangga berdiri kaku di ambang pintu, membelakangi cahaya pagi sehingga sosoknya tampak seperti siluet yang gelap. Seluruh kepala dalam ruangan itu berputar serempak ke arahnya, meninggalkan suasana hening yang mendebarkan. Mata Yudistira membelalak, wajahnya pucat sebentar mencerminkan keterkejutan yang sama dalam yang terpancar dari raut wajah Kirana dan kedua orang tuanya. Dengan gerakan cepat dan diam-diam, Dirga menyelinap mendekati Yudistira. "Maaf," bisiknya lirih, hanya untuk didengar kakak angkatnya itu, "Saya tidak sanggup menolak atau membohonginya." Yudistira menghela napas pendek, decak kecil yang penuh rasa frustasi terdengar. Perlahan, dia berdiri. Sebelum berbalik menghadapi ayahnya, tangannya meraih tangan Kirana dan memberinya remasan halus namun penuh keyakinan, sebua

